Arsip

Posts Tagged ‘Lovephology’

Keping 22: Pelajaran Terbang

<?> Aku ingin terbang. Ajarkan aku menutup kuping terhadap raungan bumi di bawahku nanti. Ajarkan aku percaya pada kekuatan sayapku. Ajarkan aku percaya bahwa aku BISA TERBANG.

<!> Bahkan seekor burung yang memiliki sayap kasat mata bisa jatuh ketika belajar terbang. Bagaimana dengan Anda yang sayapnya hanya dibentuk oleh rasa percaya? Tidak ada cara untuk belajar percaya selain PERCAYA.

<?> Maksudmu, mengejar momentum?

<!> Momentum tidak dapat dikejar. Momentum hadir. Begitu ia lewat, ia tidak lagi sebuah momentum. Ia menjadi kenangan. Dan kenangan tidak akan membawa anda kemana-mana. Kenangan adalah batu-batu diantara aliran sungai. Anda seharusnya menjadi arus, bukan batu.

<?> Aku tidak mengerti… bukankah kita seharusnya bisa memperbaiki kesalahan masa lalu?. Menghidupkan kembali momentum yang lewat, untuk kemudian merancang masa depan yang baru. Aku hanya tidak ingin menyesal di kemudian hari. Aku ingin yakin dengan pilihanku. Itu saja.

<!> Anda memang tidak mengerti.

Read more…

Categories: Lovephology Tag:

Syariat Islam Mengenai Cinta

Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi yang bersumber dari fitrah yang diciptakan Alloh Subhanallohu wa Ta’ala di dalam jiwa manusia, yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya. Sebagaimana Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala, yang artinya:

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya , dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang .Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”
(QS. Ar Rum: 21)

Cinta pada dasarnya adalah bukanlah sesuatu yang kotor, karena kekotoran dan kesucian tergantung dari bingkainya. Ada bingkai yang suci dan halal dan ada bingkai yang kotor dan haram. Cinta mengandung segala makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan dan kerinduan, disamping mengandung persiapan untuk menempuh kehiduapan dikala suka dan duka, lapang dan sempit.

Cinta Adalah Fitrah Yang Suci
Cinta bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik saja. Ketertarikan secara fisik hanyalah permulaan cinta bukan puncaknya.Dan sudah fitrah manusia untuk menyukai keindahan.Tapi disamping keindahan bentuk dan rupa harus disertai keindahan kepribadian dengan akhlak yang baik.

Islam adalah agama fitrah karena itulah islam tidaklah membelenggu perasaan manusia.Islam tidaklah mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri seorang manusia .Akan tetapi islam mengajarkan pada manusia untuk menjaga perasaan cinta itu dijaga , dirawat dan dilindungi dari segala kehinaan dan apa saja yang mengotorinya.

Islam mebersihkan dan mengarahkan perasaan cinta dan mengajarkan bahwa sebelum dilaksanakan akad nikah harus bersih dari persentuhan yang haram.

Menikah Tanpa Cinta
Adakalanya sebuah pernikahan terjadi tanpa dilandasi oleh cinta. Mereka berpendapat bahwa cinta itu bisa muncul setelah pernikahan. Islam memandang bahwa faktor ketertarikan merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja.Islam melarang seorang wali menikahkan seorang gadis tanpa persetujuannya dan menghalanginya untuk memilih lelaki yang disukainya seperti yang termuat dalam Al Qur’an dan Al Hadist

Firman Allah Subhanallohu wa Ta’ala, yang artinya:

“Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin dengan bakal suaminya”
(QS. Al Baqarah: 232)

“Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu , bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam , lalu ia memberitahukan bahwa ayahnya telah menikahkannya padahal ia tidak suka , lalu Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam memberikan hak kepadanya untuk memilih”
(HR Abu Daud)

Karena yang menjalani sebuah pernikahan adalah kedua pasangan itu bukanlah wali mereka.

Selain itu seorang yang hendak menikah hendaknyalah melihat dahulu calon pasangannya seperti termuat dalam hadist: “Apabila salah seorang dari kamu meminang seorang wanita maka tidaklah dosa atasnya untuk melihatnya, jika melihatnya itu untuk meminang, meskipun wanita itu tidak melihatnya” (HR. Imam Ahmad)

Memang benar dalam beberapa kasus, pasangan yang menikah tanpa didasari cinta bisa mempertahankan pernikahannya. Tapi apakah hal ini selalu terjadi, bagaimana bila yang terjadi adalah sebuah neraka pernikahan, kedua pasangan saling membenci dan saling mencaci maki satu sama lain. Sebuah pernikahan dalam islam diharapkan dapat memayungi pasangan itu untuk menikmati kehidupan yang penuh cinta dan kasih sayang dengan mengikat diri dalam sebuah perjanjian suci yang diberikan Alloh Subhanallohu wa Ta’ala. Karena itulah rasa cinta dan kasih sayang ini sudah sepantasnya merupakan hal yang harus diperhatikan sebelum kedua pasangan mengikat diri dalam pernikahan. Karena inilah salah satu kunci kebahagian yang hakiki dalam mensikapi problematika rumah tangga nantinya.

Selamat buat teman-temanku yang menikah tanggal 07-07-07 dan 08-07-07

“Barokallohulaka wa baroka ‘alaika, jamaa bainakuma fii khoir..”

Dikopi dari Media Muslim

Categories: Lovephology Tag:

Ketika Khadijah Jatuh Cinta pada Muhammad

Wanita mana yang tidak terpikat oleh pemuda seperti ini? Ia tampan, kaya, cerdas, keturunan orang terhormat, dan paling mulia akhlaknya di Jazirah Arab.Menjelang tengah hari, sebuah kafilah dagang dari negeri Syam tiba di Makkah. Tak lama kemudian kafilah dagang itu memasuki pelataran sebuah rumah besar dan bagus.

Dari dalam terlihat seorang wanita berusia bergegas ke luar dan menyambut kafilah dagang yang sangat dinantikannya. Dari mimik mukanya tampak gurat-urat kegembiraan. Tak lama kemudian, terjadi percakapan antara wanita yang bernama Siti Khadijah itu dengan Muhammad bin Abdullah, pemuda yang memimpin kafilah dagang. Didengarkannya pemuda Muhammad berbicara dengan bahasa yang begitu fasih tentang perjalanan dagangnya ke negeri Syam, serta keuntungan yang diperoleh dari perdagangan tersebut. Demikian juga, Khadijah mendengar penjelasan Muhammad tentang barang-barang dari Syam yang berhasil ia bawa beserta kafilahnya. Khadijah sangat gembira dan terlihat antusias sekali mendengarkan cerita tersebut.

Sesaat kemudian datanglah Maisarah; orang kepercayaan Khadijah yang menyertai Muhammad berdagang ke Syam. Ia pun menceritakan pengalaman-pengalaman yang ditemuinya selama perjalanan. Semua yang diceritakan Maisarah makin menambah pengetahuan Khadijah tentang Muhammad.Sebelumnya, Khadijah pun tahu bahwa Muhammad adalah sosok pemuda yang sangat mulia akhlaknya. Dalam waktu yang singkat, rasa simpati itu berubah menjadi rasa cinta. Khadijah tertarik untuk menjadikan Muhammad bin Abdullah sebagai pendamping hidup.

Apa yang menyebabkan Siti Khadijah simpati lalu jatuh hati pada sosok pemuda Muhammad? Bukankah Khadijah adalah seorang konglomerat wanita terkaya di Makkah saat itu, sedangkan Muhammad hanya seorang ‘pemuda biasa’? Mengapa pula Khadijah ‘berani’ menjadikan Muhammad sebagai suami, bahkan ia yang berinisiatif melamarnya, padahal sebelumnya banyak pembesar Quraisy yang mengajukan lamaran, dan semuanya ditolak?

Ada beberapa faktor penyebab. Pertama, faktor kesepadanan atau kesekufuan. Adalah sesuatu yang wajar bila seseorang jatuh cinta pada orang yang memiliki banyak kesamaan dengan dirinya daripada perbedaan. Orang pun akan cenderung memilih pendamping hidup yang sekufu (sederajat), baik dari sisi harta, ideologi, gaya hidup, keilmuan, dan kepribadian.

Khadijah mencintai Rasulullah SAW, boleh jadi, disebabkan karena Muhammad Rasulullah SAW memiliki banyak ‘kesamaan’ dengan dirinya. Khadijah adalah wanita mulia, Muhammad SAW pun seorang lelaki mulia, sehingga Khadijah pun cenderung memilih pendamping yang akhlaknya mulia. Khadijah adalah seorang konglomerat, sedangkan Rasul seorang entrepreneur dan marketer yang hebat. Rasul berasal dari keturunan orang-orang terpandang, begitupun Khadijah. Kedua karakter yang memiliki banyak kesamaan ini jelas lebih mudah bersatu. Di luar ketentuan Allah SWT, Khadijah tertarik pada Rasulullah SAW karena beliau adalah seorang profesional. Sampai usia 25 tahun, Rasul telah melewati tahap-tahap kehidupan sebagai seorang profesional di bidangnya (pedagang).

Mengkaji pribadi Rasulullah SAW, kita akan mendapatkan jiwa entrepreneurship yang sudah dipupuk sejak usia 12 tahun, tatkala pamannya Abu Thalib mengajak melakukan perjalanan bisnis ke Syam, negeri meliputi: Suriah, Yordania, dan Lebanon saat ini. Demikian juga sebagai seorang yatim piatu yang tumbuh besar bersama pamannya, Beliau telah ditempa untuk tumbuh sebagai seorang wirausahawan yang mendiri. Maka ketika pamannya tidak bisa lagi terjun langsung menangani usaha, pada usia 17 tahun Muhammad telah diserahi wewenang penuh untuk mengurusi seluruh bisnis pamannya. Kedua, dilihat dari segi fisik Rasulullah SAW sangat sulit dikatakan jelek. Muhammad Husein Haikal dalam bukunya Sejarah Hidup Muhammad dengan baik menggambarkan bagaimana indahnya wajah Rasulullah SAW.

“Paras mukanya manis dan indah, perawakannya sedang, tidak terlampau tinggi juga tidak pendek, dengan bentuk kepala yang besar, berambut hitam antara keriting dan lurus. Dahinya lebar dan rata di atas sepasang alis yang lengkung lebat dan bertaut, sepasang matanya lebar dan hitam, di tepi-tepi putih matanya agak kemerah-merahan, tampak lebih menarik dan kuat; pandangan matanya tajam dengan bulu mata yang hitam pekat. Hidungnya halus dan merata dengan barisan gigi yang bercelah-celah. Cambangnya lebat sekali, berleher agak panjang dan indah. Dadanya lebar dengan kedua bahu yang bidang. Warna kulitnya terang dan jernih dengan kedua telapak tangan dan kakinya yang tebal. Bila berjalan badannya agak condong ke depan, melangkah cepat, dan pasti. Air mukanya membayangkan renungan dan penuh pikiran, pandangan matanya menunjukkan kewibawaan, hingga membuat orang patuh kepadanya.”

Ketampanan Rasulullah SAW terasa makin lengkap dengan gerak-geriknya yang menawan. Dikisahkan pula oleh Ummu Ma’bad bagaimana sikap beliau, tatkala ia melihat Rasulullah SAW dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah: ”Aku melihat seorang lelaki dengan wajah berseri-seri dan bercahaya… Jika ia diam maka tampaklah kharismanya. Jika sedang berbicara, ia tampak begitu agung dan santun. Ia tampak paling muda dan paling rupawan bila dipandang dari kejauhan, juga paling tampan dan memesona di antara rombongannya. Ucapannya menyejukkan, perkataannya jelas; tidak sedikit dan tidak pula bertele-tele, sebagai buah dari kecerdasan. Beliau adalah orang yang paling menarik dan kharismatik di antara ketiga sahabatnya (Abu Bakar dan seorang penunjuk jalan).”

Keindahan perilaku Rasulullah SAW bersumber dari kemuliaan akhlak dan kejernihan jiwa. Inilah faktor ketiga yang membuat Khadijah jatuh cinta. Muhammad adalah sosok pemuda berakhlak mulia, bahkan puncak dari akhlak yang mulia. Dengan karunia Allah SWT, dalam diri beliau terkumpul semua akhlak terpuji yang dikenal manusia: kejujuran, kedermawan, ataupun kelembutan. Tak ada satu sisi pun dalam diri beliau tanpa budi pekerti yang luhur. Akhlak Rasulullah SAW adalah sebuah keistimewaan, hingga beliau ‘meringkas’ misi dakwahnya dalam sebuah hadis, ”Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia” (HR Bukhari dan Hakim).

William Moir, seorang pujangga asal Prancis, mengungkapkan bagaimana indahnya akhlak Rasulullah SAW. Ia berkata, “Sederhana dan mudah adalah gambaran seluruh hidupnya. Perasa dan adabnya adalah sifat yang paling menonjol dalam pergaulan beliau dengan pengikutnya yang paling rendah sekalipun. Tawadhu, sabar, penyayang, dan mementingkan orang lain lagi dermawan adalah sifat yang selalu menyertai pribadinya dan menarik simpati orang di sekitarnya. Tidak seorang pun di sampingnya yang merasa bahwa ia tidak memperhatikannya secara khusus, meski orang itu adalah seorang gembel. Jika bertemu dengan orang yang berbahagia karena suatu keberhasilan, maka ia menggengam tangannya dan ikut merasakan kegembiraan. Jika bersama dengan orang yang tertimpa musibah dan dirundung kesedihan, beliau pun ikut larut merasakan kesedihan mereka. Beliau sangat perasa dan pandai menghibur.” Karenanya, wanita mana yang tidak terpincut oleh pemuda seperti ini?

Allahumma Shali Wa Shalim Wa Baarik Alaihi…
Sebaik-baik teladan bagi manusia

Categories: Lovephology Tag:

Jika Ia Sebuah Cinta

Dapet dari blognya Diana sebuah inspirasi memaknai hati (dalam skala global yah)

[author unknown]

Jika ia sebuah cinta..
Ia tidak mendengar..
Namun senantiasa bergetar..

Jika ia sebuah cinta..
Ia tidak buta..
Namun senantiasa melihat dan merasa..

Jika ia sebuah cinta..
Ia tidak menyiksa..
Namun senantiasa menguji..

Jika ia sebuah cinta..
Ia tidak memaksa..
Namun senantiasa berusaha..

Jika ia sebuah cinta..
Ia tidak cantik..
Namun senantiasa menarik..

Jika ia sebuah cinta..
Ia tidak datang dengan kata-kata..
Namun senantiasa menghampiri dengan hati..

Jika ia sebuah cinta..
Ia tidak terucap dengan kata..
Namun senantiasa hadir dengan sinar mata..

Jika ia sebuah cinta..
Ia tidak hanya berjanji..
Namun senantiasa mencoba Memenangi..

Jika ia sebuah cinta..
Ia mungkin tidak suci..
Namun senantiasa tulus..

Jika ia sebuah cinta..
Ia tidak hadir karena permintaan..
Namun hadir karena ketentuan..

Jika ia sebuah cinta..
Ia tidak hadir dengan kekayaan dan Kebendaan..
Namun hadir karena pengorbanan dan kesetiaan..

Categories: Lovephology Tag:

Perempuan dan Cinta

“Dapet” ga sengaja waktu searching “jokam ” dan “354″ di yahoogroups. A nice one, lumayanlah bisa dapet “a new view” tentang wanita yang katanya “misteri terbesar laki-laki”( is it?) hehehe
semoga bermanfaat

——————–

”Mengajar perempuan mencintai atau mengasihi serupa dengan membimbing air mencari tempat yang rendah”. Mungkin itulah penggambaran yang tepat terhadap salah satu sosok makhluk Allah yang satu ini. Sungguh pula para sufi mengakui bahwa Cinta Kasih adalah sifat yang lebih menonjol yang dimiliki kaum perempuan dibandingkan pada lelaki. Sampai ada pula yang mengatakan ”Hanya satu seni yang dimahiri perempuan, yaitu mencintai dan dicintai”. Itulah sepertinya yang menjadi sebab sehingga Allah menganugerahi perempuan kemampuan menangis, cemburu, dan berduka serta kesediaan berkorban untuk kekasih melebihi anugerah-Nya kepada lelaki karena air mata mengundang kasih dan cinta, pengorbanan menyuburkannya, cemburu menghangatkannya, sedangkan duka cinta tidak terobati kecuali dengan cinta pula.

”Tidak diketahui sesuatu yang begitu diperhatikan dan mantap pada diri perempuan melebihi cinta”. (Abu Muhammad Ibnu Hazm).

Banyak penyair, seniman maupun filosof dari kaum adam menyemai perempuan dengan perkara cinta dan kasih, dengan lautan bahasa indah sebagai visual yang tepat dalam penggambaran sosok perempuan. Ibnu Hazm seorang ulama dari Andalusia dalam riwayatnya mengalami jatuh cinta yang pertama kepada jariat (pembantunya), lalu menikahinya. Namun ketika istrinya meninggal dunia, ia larut dalam kesedihan dan menangis berbulan-bulan, padahal menurut pengakuannya ia adalah orang yang sulit mencucurkan air mata. Ia jatuh sakit sekian lama, bahkan kehilangan sebagian ingatannya, walaupun kemudian sembuh. Beliau mengungkapkan ”Demi Allah, hingga kini aku tidak pernah lagi merasa bahagia. Kehidupan setelah kepergiannya tidak nyaman lagi. Aku terus mengenangnya dan tidak lagi menemukan kesenangan dari selainnya”. Demikian besarnya aura cinta yang menyebar dari perempuan, sehingga tidak mengherankan Aisyah sedemikian cemburunya karena Cinta Rasulullah kepada Khadijah.

Bagi perempuan, cinta adalah harapan, bahkan hidup adalah cinta, sehingga perempuan bersedia berkorban demi cintanya. Dia bersedia meninggalkan Ayah dan Ibu serta saudara-saudaranya demi mengikuti suami atau kekasih yang dicintainya. Sejarah mencatat nama Rabi’ah al-Adawiyah sebagai perempuan Pencinta Tuhan yang agung.

Agaknya memang benar adanya. Cinta tidak dapat diukur dan dideteksi, namun dapat dirasakan melalui gejala-gejala psikologis, sifat-sifat, perilaku dan pengaruh yang diakibatkan pada diri seseorang yang mengalaminya. Untuk itu, sebagian pakar mengatakan ”Keterangan tentang cinta, bukanlah cinta.” Cinta tidak dapat dilukiskan, tetapi harus dialami agar diketahui.

Di dalam Al-Quran, kata yang paling banyak menunjuk cinta adalah kata hubb, yang terulang sebanyak 93 kali. Ada analisa yang menarik tentang kata ini. Hubb/cinta dalam bahasa Arab terdiri dari dua huruf, yaitu ha’ dan ba’. Huruf ha’ terucapkan melalui akhir kerongkongan yang merupakan sumber suara. Tempat keluar itu tidak jauh dari jantung/hati yang merupakan sumber cinta, sedangkan huruf ba’ lahir dari pertemuan kedua bibir yang merupakan akhir tempat keluarnya suara. Dengan demikian, kata ini (hubb) menghimpun awal dan akhir sekaligus mengisyaratkan bahwa cinta adalah awal perasaan yang berlanjut hingga akhirnya. (Jalaluddin Abdurrahman as-Sayuthi)

Cinta adalah fitrah, naluri dalam diri manusia. Tidak ada rasa takjub dan menyenangkan dalam diri manusia yang lebih dalam daripada senang dan rasa takjub karena dicintai dan mencintai.

Masa lalu cinta sangat terhormat, sedemikian terhormatnya sehingga cinta hampir-hampir dirahasiakan. Cinta diungkap dalam surat-surat cinta yang disampaikan oleh orang yang sangat dipercaya, bahkan dikirim melalui burung-burung merpati yang terlatih. Surat-surat itu ditulis dengan menggunakan air mata dan tinta, atau tinta dicampur dengan sedikit embusan ludah atau darah, lalu dikemas sedemikian rupa sehingga bukan saja terlihat indah, melainkan juga sangat rahasia.

Cinta mengundang dan mendorong pencinta untuk melakukan aneka aktivitas terpuji, seperti keberanian, kedermawanan, pengorbanan dan sebagainya. Cinta melahirkan gerak positif. Dengan demikian, ia adalah kehidupan dan kebahagiaan. Karena itu, sungguh tepat ungkapan yang menyatakan ”Jika anda tidak mencintai dan tidak mengetahui apa cinta maka jadilah batu karang yang kukuh kering kerontang”. Inilah yang mengundang para pemikir dan ulama membicarakan cinta dan membahasnya. Karena itu pula anda tidak perlu heran menemukan ulama yang dituduh kaku dalam pandangan agama, justru berbicara dengan sangat indah tentang cinta, bahkan larut dalam cinta karena cinta seperti itulah yang dikehendaki agama dan moral.

Cinta mestinya berakhir dengan kematian yang dicintai. Bahkan, al-Qur’an menggambarkan cinta suami istri yang beriman berlanjut terus kendati setelah kematian.

”Sesungguhnya penghuni-penghuni surga pada hari itu dalam kesibukan, lagi sangat senang. Mereka bersama pasangan-pasangan mereka berada dalam tempat yang teduh bertelekan di atas dipan-dipan” (Qs. Yasin 55-56).

Meskipun cinta dapat putus dengan kematian, kesetiaan dan kenangan manis harus terus berlanjut. Ketika Nabi Muhammad saw berhasil memasuki kota Mekah dengan kemenangannya, beliau berkunjung ke lokasi rumah istri beliau, Khadijah ra., yang belasan tahun wafat, padahal tiada lagi yang tersisa kecuali lokasinya. Demikian contoh kesetiaan, cinta pertama dan utama Nabi Muhammad saw.

Cinta saat ini telah terjadi kekaburan yang jauh terhadap makna cinta yang tinggi dan suci. Cinta menjadi komoditi yang diperjualbelikan. Cinta dalam kondisi manusia saat ini menjadi alat bukan lagi cinta. Cinta adalah rasa, yang berbeda sekali dengan alat yang tidak memiliki rasa. Cinta bukanlah permintaan untuk memenuhi keinginan sesaat, tetapi ia adalah pemberian, kedermawanan, dan pengorbanan tanpa pamrih. Fakta berkata, korban paling banyak di sini adalah perempuan, makhluk yang mestinya paling tinggi dan dalam rasa cintanya.

Disadur dari buku ”Perempuan”, M. Quraish Shihab

Categories: Lovephology Tag: