Arsip

Archive for the ‘Opini’ Category

Arema vs Persiwa + PSSI

Menyesakkan, iya. Kecewa, sangat. Marah, agak. Pertandingan yang terhenti di menit ke 71 akibat ulah Aremania yang menerobos masuk ke lapangan memang pantas disayangkan. Tidak ada asap kalau memang tidak ada api. Kepemimpinan wasit memang penuh kontroversi. Saya yang cuma (dengan penekanan -red) bisa melihat lewat televisi pun mencoba bersabar dan husnudzhon dengan jalannya pertandingan tersebut. Toh para pemain Arema tetap melanjutkan pertandingan tanpa ada protes yang berarti. Mereka terus berusaha membobol gawang Persiwa yang malam hari itu bermain lumayan bagus mengimbangi permainan Arema. Tapi… (dengan jeda yang agak panjang -red) bayangkan bagaimana perasaan ribuan Aremania yang memenuhi stadion Brawijaya, Kediri melihat jelas kejadian di depan mata kepala mereka sendiri.

Dan meletuslah kejadian yang kita semua tidak inginkan di ranah Indonesia ini. Di tambah pemberitaan media massa yang dirasakan berat sebelah, yang hanya meliput akibat dari kejadian tersebut (entah mereka mengirimkan wartawan kesana, atau cuma coppas berita) tanpa ada telisik lebih dalam, lebih menyeluruh akan sebab kejadian itu.  Dengan sekejap rusaklah nama baik dan reputasi Aremania sebagai suporter yang baik. Aremania di seluruh penjuru dunia berduka. Sekali lagi tidak ada asap tanpa ada api.

Ramai dan penuh saling silang pendapat ketika saya membaca email-email yang berseliweran di milis aremania. Yang memaki-maki PSSI, banyak. Wasit, apalagi. Yang menyayangkan kesiapan dan kesigapan panpel, banyak juga.  Ditambah do’a, rasa prihatin dan emosi yang campur aduk mereka tuangkan di surat-surat itu. Bahkan ada yang menangis, menyayangkan kejadian dan rasa ketidakadilan yang dirasai Arema-Aremania. Yang jelas dengan adanya “cobaan” seperti ini dan ketika berhasil melewati “cobaan” ini, Arema-Aremania akan semakin kuat. Ayo bersatu merapatkan barisan.  Mudah-mudahan Allah memberi jalan untuk memperjuangkan nasib Arema-Aremania.

Ayo Arema!, Ayo Aremania!

Categories: Opini Tag:

Ulah si Merah dan si Kuning

Republika pagi ini

Jakarta-RoL — Sejumlah partai politik (parpol) menggalang aliansi strategis guna menghadapi aliansi Golkar-PDIP terkait pembahasan RUU paket politik. Lima partai –Partai Persatuan Pembangunan (PPP); Partai Kebangkitan Bangsa (PKB); Partai Keadilan Sejahtera (PKS); Partai Bintang Reformasi (PBR); dan Partai Amanat Nasional (PAN)– gelar pertemuan di akarta, Selasa (26/6).

Memang dalam politik yang ada cuma kepentingan abadi. Saya sangat berharap yng terbaik buat bangsa Indonesia dan umat Islam. Semoga saja elit-elit politik Islam Indonesia sadar akan dampak yang mungkin terjadi, dan segera bergerak. Kemauan untuk bersatu dan membenahi bangsa!

Masih ngantuk euuy…

Categories: Opini Tag:

Ceriyati, perlawanan seorang TKI

Dan lagi, seorang TKI selamat dari tindakan kekerasan (baca kedzaliman) majikannya di Malaysia. Superheo masa kini yang jauh-jauh ke negeri seberang, meninggalkan keluarga sanak saudara demi mendapatkan kelayakan hidup. Suatu hal yang sulit didapatkan di negerinya sendiri. Banyak wanita-wanita Indonesia yang hebat (baca: TKI) yang kuat. Kuat berkeinginan, kuat mengambil resiko yang entah itu apa. Resiko yang sama sekali tidak bisa mereka duga atau bayangkan. Kuat bertahan, menerima perlakuan-perlakuan di luar batas kewajaran manusia.

Metro TV

Ceriyati, TKI asal Brebes, Jawa Tengah, nekad kabur karena tidak tahan diperlakukan kasar selama bekerja empat setengah bulan di tempat majikanya. Selain tidak digaji, ia juga sering dipukul dan dilarang beribadah oleh majikannya. Ceriyati kabur dengan cara turun dari jendela lantai 15 dengan melilitkan kain dan baju yang diikat dari jendela kondominium majikannya di daerah Sentul, Kuala Lumpur. Dari sana, Ceriyati lalu mendatangi Kantor KBRI dan meminta perlindungan hukum…

Banyak contoh-contoh sukses bekerja di negeri orang, tapi tak sedikit yang memilukan. Bekerja sebagai TKI masih menjadi impian yang menjanjikan bagi sebagian orang. Ceriyati sendiri mungkin tak pernah membayangkan bahwa ia dengan berani turun dari kondominium hanya dengan untaian kain. Nekat, tentu saja. Ia wanita hebat yang tidak hanya kuat bertahan menerima tindakan kekerasan berkali kali, dan lagi dan lagi. Tapi juga ia sosok wanita yang berani, mengambil sikap. Dan mungkin yang terpikir di benaknya, satu-satunya cara ya lewat jendela. Mau keluar dari kondominium tersebut harus punya kunci/kartu akses yang dipegang majikannya bukan?. Belum lagi akses lift. Dan pelbagai hal “njlimet” bagi seorang Ceriyati yang sederhana, yang berasal dari Brebes, Kecamatan Larangan, Desa KedungBokor, Pedukuhan Poncol.

Salut.

Corengan lagi dimuka Indonesia, perlindungan hukum yang lemah. Ketidakjelasan status. Perbedaan persepsi pemerintah Malaysia dengn RI terkait dengan TKI itu sendiri. Mereka bukan perampok, atau komoditi. Tapi korban, manusia yang sudah seharusnya dilindungi oleh negara asalnya.

Alhamdulillah, pelaku kekerasan tersebut (Ivone Hsu – kalau tidak salah), langsung diadili dan dikenakan hukuman. Tpi tentunya ibarat gunung es, banyak kejadian yang tertutupi di bawah permukaan. Apakah harus menunggu Ceriyati CEriyati yang lain, yangdengan berainya turun lewat jendela. Menunggu peti mati dari Timur Tengah sana (yang proses pengirimannya saja makan waktu minggun, bahkan bulanan). menunggu sampai ada korban yang jadi gila, karena diperlakukan oleh majikannya layaknya budak, untuk memuaskan syahwat di Timur Tengah sana. Mereka wanita-wnita Indonesia yang harus kita lindungi. Kita bela.

Masya Allah

Sejahterakan rakyat mu wahai pemerintahku
Akan kau saksikan tak lagi kami perlukan mengais rizki di seberang
Kami lebih cinta Indonesia
Tapi kami hanya punya sedikit pilihan

Categories: Opini Tag:

Selamat Tinggalku

4 tahun 8 bulan. Suatu periode waktu belajar, bekerja dan berkembang di perusahaan telekomunikasi terkemuka di Indonesia sebagai outsource employee”. Banyak yang bisa saya ambil dari tempat itu. Buah masak, mengkal maupun busuk, yang bisa langsung memetik dari pohon, menunggu jatuh, “disenggek” atau “diketapel”. Pengetahuan telekomunikasi, informasi, persaudaraan, itu pasti. Karakter dan tipikal manusia dan interaksinya dengan orang lain dari berbagai strata. Kesimpulannya saya mengenal dunia lebih baik di tempat itu.

Karyawan outsourcing di tempat itu banyaknya mungkin hampir sama atau melebihi karyawan organiknya sendiri. Karena hampir di setiap bagian atau sub-bagian selalu ada, minimal 1 orang, maksimal ya sebanyak yang dibutuhkan. Dari sekretaris dan resepsionis yang manis, teknisi dan bagian administrasi yang “berisi” (kekar,atletis-red), sampai dengan janitor dan pengemudi yang baik hati. Yang tersebar di beberapa Yayasan Penyedia Tenaga Kerja.

Meskipun ada yang namanya UU Ketenagakerjaan, toh yang namanya peraturan pasti bisa saja dan ada saja cara untuk menyiasatinya. Pernah dengar kalimat yang beredar di masyarakat kita bahwa “rule are made to be broken (peraturan itu dibuat untuk dilanggar)”.

Sakit hati? tentu “tidak”, prihatin “iya”. Saya anggap itu merupakan “survival mode” dari perusahaan yang menekan biaya produksi dan operasional yang ujung-ujungnya “profit oriented”, dan harus dimaklumi itu merupakan strategi bisnis suatu perusahaan.

Tapi toh orang-orang di dalamnya banyak yang punya hati nurani yang mulia yang tidak semuanya sependapat, tapi cuma “tergencet sistem” dan “apa mau dikata?”. Sadar atau tidak sejatinya kita hidup di belantara “saling membutuhkan”, ada pemangsa dan yang dimangsa. Dan lagi perusahaan itu bukan badan sosial atau lembaga pelayanan masyarakat.

Kalau dirunut-runut, bisa jadi teori konspirasi, dengan adanya aspek kapitalisme, neo-feodalisme, demokrasi dan lain sebagainya yang ujung-ujungnya ke kesadaran diri sebagai anak bangsa, muslimin/mukminin. Tapi stop sampai disini saja. Butuh kajian lebih dalam yang saya belum ada waktu tersisihkan untuk melakukannya. Nantilah barang satu atau dua topik saya cuatkan.

Kembali ke perpisahan saya dengan perusahaan telekomunikasi itu, ada rasa haru berpisah dengan teman-teman senasib dan seperjuangan yang memberikan canda, gelak tawa, cinta, harapan, senyum getir dan elusan dada dalam satu bingkisan perasaan. Tapi kita harus selalu bergerak teman-teman. Ke atas, depan atau kanan, jangan ke bawah, belakang atau kiri. Jadi diri sendiri sajalah. Itu saja sudah susah dan butuh waktu lama. Ciptakan dan siapkan target dan rencana. Toh kalau target tak tercapai bisa digeser sedikit kan. Alhamdulilah target saya yang cuma berharap 3 tahun di sini dan bisa kuliah, jadi nambah 1 tahun 8 bulan dan lulus kuliah. Hehehe…

Ambil hal-hal positif dari situ. Dari senyuman seorang driver beranak dua dengan gaji pas-pasan, atau keluh kesah orang berjabatan mapan yang bermuka kaku dan statis “hidup gue kok gini-gini aja ya”. Itulah hidup dan cara pandang. Selalu ada hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian bagi orang-orang yang berpikir.

Akhir kata semoga perusahaan itu tetap eksis, maju, berjaya, dan memberikan banyak manfaat bagi ummat.

Dan saya akan mencoba peruntungan baru, menguak rizki dari pintu baru di tempat baru bersama karibku yang lain.

“Tapi masih ada setitik penasaran…”

Categories: Opini Tag:

Bersatulah Kambing Hitam

Kalau sudah bencana seperti ini, keberadaan si kambing hitam akan trus dicari. Dari wartawan media massa yang objektif atau sebelah mata, sampai kalangan selebritis, mahasiswa, pedagang, bahkan anak sekolah tak pelak bertanya dan mencari pembenaran yang terjadi sekarang ini, termasuk saya sendiri.

Ada yang bilang “Ini siklus lima tahunan”.

Ada juga yang bilang “Pemerintah kurang tanggap dan serius menyiapkan diri menghadapi bencana yang katanya sudah diprediksi!”

Ada lagi yang berpendapat “Mari seluruh rakyat dipimpin SBY, taubat massal”.

Terus ada Pak Ustadz, “Lha ini akibatnya kalau jabatan dan amanah di salah-gunakan…”.

Pendapat diatas itu benar semua, tidak ada yang salah. Menurut saya masalah banjir ini sedemikian kompleksnya sampai tiap elemen masyarakat ikut andil. Eksploitasi semena-mena terhadap alam dimana saja di muka bumi ini mengakibatkan cuaca global yang awut-awutan. Lahan-lahan hijau di gelontor beton dijadikan pusat perbelanjaan, gedung penusuk langit, perumahan, apartemen dan atau kondominium. Penyempitan pembuluh sungai akibat pembuangan sampah warga kota yang tidak sadar atau belum sadar, dan di sepanjang hilir sungai pemukiman liar kaum papa yang untuk sekedar tempat tinggal saja dengan pilihan yang sangat terbatas dan sulit mereka tinggal disitu. “Habis mau tinggal dimana lagi pak?”.

- Padahal tempo dulu kali Ciliwung itu bisa dilayari dengan kapal, dijadikan pelesiran orang-orang berkuasa dan berduit di jamannya-.

Mungkinkah para pejabat tata-kota itu melicinkan jalan para developer properti dengan imbalan yang bisa dinegosiasikan tanpa memperhatikan analisa dampak lingkungan?. Jelas mungkin sekali, sangat mungkin. Lha wong sudah sejak lama “duit” itu jadi tuhan baru. Dan sudah lama juga jabatan itu bisa diselewengkan dan dijadikan alat pemuas nafsu.

Tidak sembarangan seorang Ustadz terkenal bisa bilang “Lha ini akibatnya kalau jabatan dan amanah di salah-gunakan…”.

Tapi tetap saja yang jadi korban itu rakyat. Yang dengan kebesaran hati luar biasa, dengan tempaan derita yang bertahun-tahun lamanya, menjadikan bencana itu “biasa” dan dengan sabarnya mereka menerima. Atau karena tidak punya pilihan lain? Entahlah.

“Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (Al-Baqarah:12)

Jadi semua elemen masyarakat sadar atau tidak ikut andil. Dengan berbagai bentuknya. Pejabat dan aparat yang sudah korup sejak lama dan terus berlanjut -ini yang paling penting-, ulama yang kurang “berani” mengkritik pemerintahan, serta berimbas ke masyarakat kecil yang tidak disiplin karena minimnya kesadaran dan pendidikan.

Kembalilah ke sila ke-3 pancasila, “Persatuan Indonesia” yang sangat erat kaitannya “ukhuwah islamiyah”. Unity make us strong.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”(Al-Baqarah:30)

Tidak sia-sia kita dijadikan Allah di muka bumi ini, meskipun sejak penciptaan awal manusia memang akan berbuat kerusakan di muka bumi, tengoklah akhir ayat “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Ada janji Allah di balik semua ini. Semoga setiap elemen-elemen bangsa ini bersatu dengan adanya cobaan dan teguran-Nya yang entah ke-berapa. Jangan saling mencari kambing hitam, jangan saling menyalahkan. Yang paling jauh adalah masa lalu, persiapkanlah hari depan. Untuk Indonesia yang lebih baik dan mulia.

Unity…unity…unity…

Categories: Opini Tag: