Arsip

Archive for the ‘Jalan-jalan’ Category

Catatan Ciremai

Rombongan kami bertambah 1 orang lagi, Boy. Teman dari Botan yang bergunung-rianya juga sudah “ngelotok”. Alhamdulillah meskipun mendadak Imam yang terlebih dulu di Gambir mendapatkan tiket yang tinggal satu-satunya. Perjalanan dari Gambir ke Cirebon relatif singkat, dan selama 3 jam itu saya tertidur pulas.

Selepas sholat dzuhur kami pun dihantarkan sebuah angkot dari stasiun Cirebon ke arah Linggarjati. Yap, kami memilih jalur Linggarjati dibandingkan jalur Palutungan (Kuningan) maupun jalur Apuy (Majalengka). Tidak ada pertimbangan apa-apa karena ini yang pertama kalinya buat saya, Imam dan Babeh. Sedangkan buat Botan, Boy dan Yoyo ini yang kesekian kalinya bagi mereka (nurut aja dah ama yang tuaan-dengan logat betawi Condet). Menuju pos pendaftaran kami melewati musium Linggarjati, saksi bisu penandatangan Perjanjian Linggarjati antara Bung Karno dan Belanda. Dengan membayar Rp.6500/orang kami meninggalkan pos pendaftaran, kemudian turun dari angkot di ujung aspal tepat di depan villa dengan hiasan kepala gajah di gapuranya. Ini bukan Ujung Aspal di Pondok Gede sana, tapi karena memang sudah sampai di ujung jalan yang tidak di-aspal lagi (dead-end buat kendaraan roda empat).

Pikir saya kami mau langsung menuju Cibunar, ternyata tidak. Di gubuk petani tepat diatas sawah kami istirahat dulu, dan tidak tanggung-tanggung langsung menggoreng sosis dan omelet kornet. Memang jalan santai dan jalan nikmat, bukan yang penting sampai tapi yang penting istirahat (Huahahaha…). Setelah re-packing perbekalan, kami lanjutkan perjalanan menuju Cibunar yang berada di ketinggian +/- 750 mdpl. Di sini kami istirahat dan sholat Ashar, ba’da Maghrib kami mulai pendakian. Alhamdulillah bulan sedang purnama, jadi penglihatan di malam hari sedikit banyak cukup terbantu. Setelah melewati hutan pinus, semak belukar dan jalur pendakian yang landai dengan sesekali tanjakan yang cukup curam akhirnya sekitar tengah malam kami putuskan untuk bermalam dan membuka tenda di antara Condang Amis (1350 mdpl) dan Kuburan Kuda (1580 mdpl). Api unggun, teh manis, celoteh, tawa dan canda terasa nikmat sekali di malam yang sejuk itu. Read more…

Categories: Jalan-jalan Tag:

Liburan ke Ciremai

Karena sudah jenuh dan sedikit lusuh dengan pekerjaan dan polah laku Jakarta daaann (dengan penekanan pada akhiran an-nya) ada libur 20 Mei (Waisak dan katanya “Hari Kebangkitan Nasional”) jadinya saya mau membuat otot-otot kaki dan pundak menjadi pejal dan kaku. Gunung Ciremai jadi tujuannya.

Disamping saya belum pernah pertimbangan lainnya adalah jaraknya yang tidak terlampau jauh karena masih di kisaran Jawa Barat. Medannya pun variatif dengan beberapa pesona mistis (kayanya semua gunung punya deh :P ). But, niat saya kesitu kan buat tafakur, menyegarkan otak, paru-paru, menkmati bintang-bintang dan kalau beruntung menyaksikan meteor berjatuhan di ufuk. Pokoknya mind, body and soul deh. Apalagi teman-teman seperjalanan kali ini yang totalnya 5 orang dengan saya bisa dibilang senior buat urusan mendaki gunung. Hampir semua gunung di pulau Jawa sudah disambangi (Great huh…), jangan dibandingkan dengan saya yang masih enggak ada apa-apanya (jadi malu nih). Dan ada juga yang besar di Mapala kampusnya (wow…).

Rencananya kita menumpang Cirbon Express tanggal 17-Mei-2008 keberangkatan pukul 09:35 dari Gambir, kemudian dilanjut dengan mobil sewaan langsung ke pos pendakian atau desa terdekat. Setelah itu …. ya nanti lah setelah perjalanan selesai baru dibuat ceritanya :D . Semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran untuk perjalanan kali ini. Amiin

Berikut ini keterangan tentang gunung Ciremai yang saya ambil dari merbabu.com

Gunung Ciremei adalah gunung tertinggi di Jawa Barat ( 3.078 Mdpl ), dapat terlihat dengan jelas oleh para penumpang kereta api atau kendaraan umum lainnya sepanjang jalur pantura sekitar Cirebon.

Untuk menuju puncak Ciremei terdapat 3 jalur yang dapat ditempuh yakni jalur Majalengka, jalur Palutungan dan, jalur Linggarjati. Jalur Linggarjati merupakan yang paling terjal dan terberat, namun jalur ini merupakan yang paling sering dilalui pendaki. Read more…

Categories: Jalan-jalan Tag:

Tahu Gimbal + Es Campur Durian

Sepulang dari Kota Lama kami Ashar di Masjid Agung Baiturrahaman, yang letaknya di Simpang Lima. Perjalanan kesana melewati Lawang Sewu yang katanya menyeramkan itu, Toko Oen, dan pusat-pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan di Semarang sini. “Muter-muter wae lah”.

“Tahu gimbal?”, baru kali ini saya mendengar kata itu setelah ditawari Ariyanto untuk mencoba makanan khas Semarang sini. Bayangan saya adalah tahu yang ada tambahan makanan berbentuk rambut gimbal macam orang-orang Dreadlock itu. Karena penasaran saya terima ajakan untuk mencicipi makanan yang mungkin unik itu. Tempatnya arah ke Banyumanik setelah Gedung Telkom Semarang, di pinggiran jalan banyak juga yang menyajikan menu serupa, karena langganannya Ariyanto belum buka, akhirnya dibelokkan ke tempat yang paling luas disitu. Namanya saya lupa, Pak Hadi atau Pak Adi gitu lah.

Read more…

Categories: Jalan-jalan Tag:

Sam Poo Kong + Semarang Kota Lama

Sam Poo Kong, Kelenteng Agung Semarang, dibangun oleh masyarakat Cina Semarang sekitar tahun 2002 sebagai penghormatan kepada Cheng Ho/Cheng Ze karena dianggap sebagai nenek moyang atau cikal-bakal orang-orang Cina di Semarang. Kontradiksinya adalah kenyataan bahwa Cheng Ho adalh seorang muslim tapi sebagian besar orang-orang Cina di Semarang bukan. Walhasil situs budaya dan agama ini merupakan perpaduan dari originalitas Cina dan budaya lokal dalam hal ini Islam. Terlihat pada adanya warna hijau di kelenteng utama yang merupakan unsur/simbol budaya lokal.

Baru tiga bulan ini akses masuk ke kompleks kelenteng ini dibatasi, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, karena sejatinya ini adalah tempat ibadah. Ada empat bangunan utama di komples ini dari rencana pembangunan sekian di kompleks ini (seperti yang saya lihat di maket sewaktu membeli dupa sebagai tiket masuk). Yang pertama saya lupa namanya, tapi di depannya ada dewa yang memegang peran sebagai simbol matahari dan bulan, serta dua patung singa yang melambangkan kekuatan laki-laki dan simbol regeneratif wanita. Ada peringatan “bagi yang tidak sembahyang dilarang masuk”. Tapi saya tetap masuk sekedar melihat “apa sih yang ada disini”. Tak lupa bau dupa yang setia menemani.


Read more…

Categories: Jalan-jalan Tag:

Gedong Songo + Sate Kelinci

Gedong Songo terletak di kaki gunung Ungaran, situs ini ditemukan oleh Thomas Raffles. Sejatinya ada sembilan candi yang letaknya terpisah-pisah. Namun ada beberapa candi yang belum dipugar dan hanya berupa reruntuhan atau puing-puing yang teronggok rapi. Kalau tidak salah ada tiga reruntuhan yang belum dipugar/tidak dipugar. Situs ini dijadikan tempat wisata segala umur, dilengkapi dengan toilet yang tersebar (ini yang penting), layanan sewa kuda untuk berkeliling, saya juga sempat melihat “flying fox” yang belum/tidak beroperasi, tempat bermain anak-anak kecil, bahkan sewktu kami kesana dijadikan tempat “camping” anak-anak Pramuka.

Read more…

Categories: Jalan-jalan Tag: