Beranda > Lovephology > Keping 22: Pelajaran Terbang

Keping 22: Pelajaran Terbang

<?> Aku ingin terbang. Ajarkan aku menutup kuping terhadap raungan bumi di bawahku nanti. Ajarkan aku percaya pada kekuatan sayapku. Ajarkan aku percaya bahwa aku BISA TERBANG.

<!> Bahkan seekor burung yang memiliki sayap kasat mata bisa jatuh ketika belajar terbang. Bagaimana dengan Anda yang sayapnya hanya dibentuk oleh rasa percaya? Tidak ada cara untuk belajar percaya selain PERCAYA.

<?> Maksudmu, mengejar momentum?

<!> Momentum tidak dapat dikejar. Momentum hadir. Begitu ia lewat, ia tidak lagi sebuah momentum. Ia menjadi kenangan. Dan kenangan tidak akan membawa anda kemana-mana. Kenangan adalah batu-batu diantara aliran sungai. Anda seharusnya menjadi arus, bukan batu.

<?> Aku tidak mengerti… bukankah kita seharusnya bisa memperbaiki kesalahan masa lalu?. Menghidupkan kembali momentum yang lewat, untuk kemudian merancang masa depan yang baru. Aku hanya tidak ingin menyesal di kemudian hari. Aku ingin yakin dengan pilihanku. Itu saja.

<!> Anda memang tidak mengerti.

<?> Tolong aku. Jelaskan sekali lagi.

<!> Ada perbedaan besar antara memperbaiki dan menyesali, tapi Anda seperti tidak melihatnya. Apa bedanya memperbaiki sesuatu di atas penyesalan, atau di atas perasaan sesal yang bahkan belum terjadi? Tidak ada. Selama anda masih terbayang-bayang oleh dua ketakutan itu, Anda tidak akan kemana-mana. Pembaharuan hadir dalam setiap detik. Perbaikan terjadi setiap saat, tapi ketakutan-ketakutan Anda tadilah yang justru menghancurkan.

<!> Setiap saat anda bisa terbang, asalkan anda percaya akan pembaharuan yang hadir. Menikmati momentum yang datang. Tanpa ekspektasi apa-apa

<!> Segalanya terjadi tak terduga-duga. Hanya ada satu yang pasti dalam hidup, yaitu ketidakpastian. Hanya satu yang patut Anda harapkan datang, yaitu yang tidak diharapkan.

<!> Berhenti memilah antara apa yang diinginkan dan tidak, lalu stagnasi hanya karena anda berkeras atas sesuatu yang sebenarnya harus berubah. Berhenti juga menilai baik-buruk dari apapun. Bukan untuk itu anda hidup. Anda adalah pengamat dan penikmat. Bukan hakim.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

<?> Untuk apa mempertahankan sesuatu yang bukan milik saya lagi?

<!> Anda memang tidak memiliki apa-apa. Kecuali diri Anda sendiri. Dan diri Anda sesungguhnya amat besar, Agung. Ia mampu menampung apa saja, lebih dari yang Anda duga, andaikata Anda tidak mengikatkannya pada sesuatu. Semakin banyak yang Anda relakan, semakin besar keluasan diri yang anda rasakan.

[...]

<?> Saya benar-benar tidak menyangka. Bagaimana mungkin sesuatu yang tadinya berusaha saya pertahankan mati-matian justru kembali ketika saya lepaskan?. Perasaan ini sangat luar biasa. Rasanya saya terlahir kembali.

<!> Sesungguhnya Anda memang tidak perlu berusaha memiliki apa-apa. Anda adalah segalanya. Sekarang tidakkah Anda heran dengan orang-orang yang menguras seluruh energinya untuk mempertahankan sesuatu?. Mencoba memiliki apa yang sebenarnya sudah milik mereka?. Justru ketika Anda melepaskan keterikatan pada sesuatu, Anda semakin dekat dengan Keutuhan.

<!> Mencintai sesuatu atau seseorang dengan keutuhan diri adalah satu-satunya cara mencinta. Sementara perasaan tidak lengkap atau ketergantungan adalah refleksi jarak Anda dengan diri sendiri.

<?> Dan saya baru sadar, saya amat mencintainya tapi saya lebih mencintai diri saya sendiri. Saya mencintai diri saya yang mencinta.

<!> Itulah satu-satunya Cinta yang ada.

Dee – Supernova

Categories: Lovephology Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.