Arema – Persiter
Untuk pertama kalinya dalam hidup saya yang 23 tahun ini bisa menyaksikan secara langsung pertandingan kandang Arema (bisa diketawain nih sama arek-arek Malang
). Yang kali ini dilaksanakan di Stadion Kanjuruhan, yang untuk pertama kalinya juga saya injakkan kaki dan menyapukan pandangan di stadion yang berkapasitas +/- 30.000 ini. Saya duduk di tribun selatan, di sebelah barat tribun utama non VIP sudah terisi penuh dengan Aremania. Tidak berapa lama kemudian datang seorang Aremania berkaos hitam dengan tulisan yang cukup menarik, di bagian belakang “Fuck Off PSSI” dan di bagian depan “Liga Djancok” (maaf bagi yang tidak berkenan, tapi begitulah adanya).
Ternyata mas Dodik (sepupu saya) menjelaskan dia adalah Yuli Sumpil, Dirijen Aremania. Sepanjang jalan menuju tempat komandonya dia selalu mendapatkan tebaran salam dan teguran dari siapa saja. Sungguh menarik. Tentang kaos yang dia kenakan itu sepupu saya bilang kalau itu kaos buatannya sendiri, limited edition. Sebuah kritik dari seorang yang cukup dikenal oleh para Aremania. Tak berapa lama dia pun memimpin atraksi dukungan “The Best Supporter” Aremania. Lagu-lagu yang meruntuhkan mental lawan (yang sering ditiru oleh para suporter klub-lub lain), atraksi tangan dengan dan tanpa syal Arema, gerakan badan. Suatu atmosfer yang berbeda dengan yang saya rasakan di GBK tempo hari sewaktu Piala Asia. Begitu kompak dan teratur. Di tengah pertandingan ada seorang Aremania yang melempar botol minuman ke arah oficial Persiter, tidak perlu menunggu pihak kemananan untuk menghalau atau memberi tindakan, karena sang oknum sudah “dibereskan” sendiri oleh Aremania-Aremania yang lain (diantemi/dijotos
). Sebuah kontrol yang menakjubkan. Betapa perbuatan seperti ini dihasilkan oleh kesadaran sebagai suporter yang baik dan kontrol disisi suportr sendiri. Salute!
Pertandingan berjalan menarik di babak I dengan keunggulan untuk Arema yang dicetak Patricio “Pato” Morales. Di babak II Arema lebih banyak bertahan dan striker baru Arema Emile Mbamba (yang hampir dikontrak Leeds United) gagal mengeksekusi pinalti di akhir-akhir pertandingan. Sayang sekali.
“Ayo…ayo Arema, sore ini kita harus menang!” (menurut sumber yang bisa dipercaya, lagu ini adalah lagu kebangsaaan Chili yang dirubah liriknya, diajarkan oleh istri dari Pacho Rubio -eks striker Arema-, yang kemudian banyak ditiru oleh suporter-suporter lain). Malang memang bisa dijadikan panutan dan barometer betapa dukungan suporter sepakbola terhadap klubnya bisa menyatukan berbagai kalangan, dari berbagai jenis umur, pendidikan, dan tingkat ekonomi. Atmosfer yang sangat berbeda dan tidak saya temukan di kota-kota lain seperti Jakarta, Surabaya, entah kalau di Bandung, Kediri atau Makasar sana.
Ada halaman khusus di koran lokal Malang Post yang mengupas tentang Arema. Hampir di setiap sudut kota ada spanduk besar bergambar Singo Edan. Banyak toko-toko yang menjual merchandise tidak resmi Arema. Dari Ultras (tempat saya sering membeli t-shirt disainnya sederhana), City Of Arema (pilihannya lebih beragam dengan desain yang atraktif), sampai toko-toko kecil di mana-mana. Intinya adalah kesadaran dan kebanggan sebagai warga Malang menjadikan semangat untuk mendukung Arema apapun yang terjadi. “Pride of the City”, “Loyalitas Tanpa Batas”, adalah sekian banyak dari jargon-jargon yang diciptakan dan dilakukan oleh Aremania.
Bravo Aremania! Bravo Arema!




Komentar Teranyar